“Awal perubahan itu….”
“..an, bapak sama ibu pergi dulu “, bapak mengakhiri kalimatnya sambil menstater motor di halaman rumah.
”iya..” jawabku singkat.
”Baik-baik di rumah” sambung ibu.
Suara motor bapak mulai terdengar pelan, dan akhirnya tidak terdengar lagi setelah hampir 5 menit meninggalkan halaman rumah.
Melayani pembeli di toko dan duduk dengan berbagai posisi, semuanya ku lakukan sebelum telepon dari bapak mengagetkanku.
”i wanna miss this moment, i wanna let this go....i’m falling ..i’m falling” deringan hpku terus terdengar dari balik lemari, sementara pembeli ditokoku berdatangan dalam waktu yang bersamaan.
Menebak hampir 4 kali deringan hp ku terdengar, barulah pembeli ditokoku menjadi sepi. Tertera 1 pesan baru dari bapak yang meminta nomor hp. Tanpa berpikir panjang , nomor Andre terkirim ke nomor bapak.
Aq terdiam lagi, berpikir sebenarnya apa yang sedang terjadi, aq mulai menekan nomor Andre.
”k’ ada apa sih ?” tanyaku cepat
............................. lama suara tak terdengar
”halo ? ” sambungku lagi
”Bapak sama ibu kecelakaan” ,jawab cepat Andre.
Tut.. tut.. tut,,,
Sambungan telepon terputus secara tiba-tiba, tapi suara kakakku dapat kucerna dengan baik. Seperti ada pesawat yang menyambar diatas kepalaku, membuat jantungku berdetak tak beraaturan lagi, belum ada setetespun air mata yang jatuh sampai deringan hpku berbunyi lgi.
”halo, nak ! bapak sama ibu g’ papa ,, g’ usah khawatir cuman sakit kepala koq”
”iya,,”
”kalo gitu udah yah, baik-baik di rumah” bapak mengakhiri telepon.
Tak lama setelah itu , Tante Lia menelpon lagi.
”Halo, an.. bapak sama ibu ada di rumah sakit, masukin baju ibu sama bapak kedalam tas”
”iya tante,, tp nanti berangkat kesana naik apa?”
”nanti ada Sapta temennya Andre yang jemput ” tante Lia mengakhir telepon.
* * *
Suara motor terdengar di halaman rumah , aq bergegas mengambil semua barang dan mengunci pintu. Sesampai diparkiran rumah sakit, Sapta membantu membawa barang, dan dengan entengnya kuinjakkan kaki ke pintu masuk RS, tanpa sadar tak ada satupun dari kami berdua yang tau ruangan bapak ibu. Akhirnya ku telepon Andre.
”k’ ruangannya dimana?”
”tunggu dibawah , kk kesana!”
Sekitar 5 menit Andre muncul dan membawa kami berdua ke ruangan 501.
Aq terhenti di pintu 501, mematung melihat bapak dalam posisi yang tak dapat duduk normal dengan kaki yang diperban hingga kebagian lutut. Aq bertanya sendiri,
”ha’ ? apa ini? Aq dibohongi atau apa? Mana ibu ?
Jantungku mulai berdetak tak teratur lagi . ” Ayo masuk” tante Lia memanggil dari arah sudut kamr 501. aq berbalik mencari suara itu.
Sungguh jantungku terasa sangat kacau. Seakan ada sesuatu yang menyambar didepanku, seperti ada benda tajam yang menusuk hingga kebagian dalam dadaku, seperti ada sesuatu dalam kerongkonganku yang mebuat terasa sakit saat menahan air mata, dan seluruh bagian tubuhku hampir tidak bisa bergerak.
Tuhan,, dadaku terasa sangat sesak, air mataku seakan berlomba-lomba keluar dari kornea mataku, seluruh bagian tubuhku terasa gemetar.
”Apa ini? ” melihat keadaan ibu yang penuh darah dibagian kepala, kaki yang seakan tak ada bentuk lagi, tulang yang menjorok keluar, daging yang kelihatan bersama darah dan air mata ibu dibarengi jeritannya, membuatku sangat sakit. Sungguh aq tak ingin menangis depan ibu, tapi saat ku hapus air mata itu jatuh lagi, ku hapus jatuh lagi, ku hapus dan terus saja jatuh. Dan akhirnya kutinggalkan ruangan itu menuju WC. Aq mencuci wajahku berusaha untuk menghilangkan air mata itu. Aq mulai berjalan mendekat kembali ke ruangan 501. ”...an” Andre memanggilku. Kami berjalan berdua dan duduk tepat didepan ruangan 501. tak ada satupun dari kami berdua yang berani masuk, karena kami tahu tak ada yang bisa menahan air mata untuk menetes.
Keheningan itu lama kuraskan, sebelum Meysio sahabatku datang untuk memelukku dalam ketidak berdayaan itu. Akhirnya dokter masuk ke ruangan ibu, ” nanti, jam 9 malam dioperasi yah..ibunya harus puasa dulu”. Hingga jam menunjukkan pukul 19.00 WITA Meysio trus saja menenangkanku, hingga tiba waktunya dia untuk pulang.
Aq masuk keruangan ibu, dan sedikit tenang melihat banyak keluarga yang datang untuk menguatkan kami.
Akhirnya jam menunjukkan pukul 21.00, ibu didorong kedalam ruang operasi. Aq , Andre, Sapta bersama semua keluarga duduk bersama di bangku tempat untuk menunggu diluar ruangan operasi.
Ingatanku mulai tertuju pada bapak yang terbaring sendirian diruangan 501. aq tahu betapa sakitnya bapak, fisik maupun batin. Yang tidak bisa berjalan menuju ruang operasi untuk mendampingi ibu hingga masuk ke ruang operasi. Akhirnya, aq mengajak Andre untuk melihat keadaan bapak, berhubung keadaan rumah sakit mulai sepi mengingat pula jarak antar ruang operasi dan ruangan ayah cukup jauh.
* * *
Angin malam dibangku ruang tunggu operasi , menyapu poniku membawa ragaku terasa melayang dalm keheningan. Jam nenjukkan pukul 01.00 malam , belum juga ada tanda operasi selesai. Aq hanya terus berdoa untuk ibu, dan aq pun tahu semua keluarga melakukan hal yang sama denganku.
Tepat pukul 02.00. ibu didorong keluar dari ruang operasi menuju ruang ICU. Dan akhirnya, pukul 06.30 pagi ibu akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan.
Aq hanya bisa mengucap syukur pada Tuhan Yesus, buat keluarga yang boleh dengan setia mendampingi kami, buat sahabtku Meysio, Ramdani, Ila, Whana,Angel, Ina yang terus memberiku dukungan. Aq mulai sedikit tenang melihat kaki ibu yang sudah ditutup perban.
Keadaan ibu, mulai merubah semua kebiasaan bersama yang tlah terangkai sebelumnya. Tapi, banyak pesan yang boleh saya ambil, untuk tetap berpegang pada Tuhan karena Tuhan yang mengatur semua kehidupan manusia, untuk tidak cepat putus asa, dan manusia itu tidak bisa hidup sendiri.
............... The End ................
keren kata.kata mu , sa suka :)
BalasHapusmkasih na sdh di bca
BalasHapus